
Skena esports Dota 2 bisa dibilang jadi salah satu yang paling aktif didunia. Sejak menggelar turnamen The International di tahun 2011, game garapan Valve ini mencuri banyak perhatian lantaran menawarkan hadiah yang sangat besar. Para penyelenggara turnamen pun aktif memasukkannya sebagai cabang game yang mereka kompetisikan di beberapa kesempatan.
Meski begitu, tentu ada masalah yang bisa saja timbul dari penyelenggaraan kompetisi ini. Sebut saja pengaturan skor, bug, atau skandal lainnya pernah mewarnai rangkaian kompetisi esports Dota 2.
Di antara banyak kasus yang pernah terjadi, lima kasus di bawah ini terbilang menjadi yang paling pelik hingga bisa dikategorikan sebagai skandal memalukan. Simak ulasannya berikut ini!
1. Mengalah Demi 322 Dolar

Alexei Berezin atau yang lebih dikenal sebagai "Solo" merupakan pemain bertalenta asal Rusia. Kapten dan salah satu Support terbaik ini sempat tersandung kasus pengaturan skor di tahun 2013 pada ajang Starladder.
Saat itu, Solo ketahuan membiarkan timnya, Rox, untuk kalah dari zRage sebagai tim underdog yang tentu punya kapasitas permainan di bawah tim Rox saat itu.
Tim Starladder melakukan investigasi dan menemukan fakta bahwa Solo memenangkan 322 dolar di sebuah situs judi. Solo sempat diisukan mendapat pelanggaran main di Starladder seumur hidup.
Beruntungnya, berkat usahanya untuk meminta maaf dan menerima konsekuensi, pihak penyelenggara melepas sanksi ini setahun kemudian. Berkat usahanya untuk kembali dari keterpurukan, Solo tengah menjadi kapten untuk Virtus Pro, salah satu paling ditakuti dari region CIS.
2. "Fountain Hook" Bersejarah The International 2013

Di ajang The International 2013, Natus Vincere bertemu lawan kuat dari Tiongkok, TongFu, di babak Lower Bracket Final, Sempat kalah dan harus berhadapan di game krusial, NaVi terdesak untuk menggunakan sebuah bug.
Ketika dikombinasikan dengan Chen, Pudge bisa membuat Hook-nya mampu menarik lawan hingga ke arah fountain. Memon ini sering disebut sebagai "Fountain Hook" yang sangat bersejarah.
Berkat Test of Faith milik Chen, Pudge bisa teleportasi ke Fountain serta membawa musuh yang terkena Meat Hook miliknya. Degan cari ini, Puppey dan Dendi bisa membalikkan keadaan. Hao dari TongFu yang saat itu memakai Gyrocopter menjadi salah satu Carry yang sangat berbahaya. Dia pun kerap jadi sasaran strategi tersebut.
Meski pihak TongFu mengakui kekalahan, tetap saja banyak pihak yang menganggap cara ini curang. Fountain Hook adalah salah satu contoh kalau bug bisa terjadi dan membuat permainan enggak seimbang.
3. Shanghai Major Dipenuhi Masalah

Turnamen Dota 2 dikenal punya gelaran yang selalu meriah. Meski begitu, Shanghai Major yang digelar 2016 lalu digadang-gadang sebagai event paling buruk di sepanjang esports Dota 2. Mulai dari masalah siaran, pelayanan para pemain atau penonton, hingga pemecatan salah satu talent membuat Shanghai Major dirundung banyak permasalahan.
Di hari pembukaan, atmosfer negatif mulai merundung Shanghai Major lantaran produksi siaran mengalami banyak masalah. Beberapa pemain bahkan kecurian alat pribadi mereka seperti keyboard dan mouse saat fase grup di gear.
Perfect World sebagai penyelenggara dituding sebagai penyebab bobroknya gelaran ini. Berangkat dari kejadian ini, Valve meminta maaf dan melepas PerfectWorld menuju hari-hari terakhir Shanghai Major.
4. Kasus Rasisme Kuku dan Skemberlu

Di akhir 2018, dua pemain profesional Dota 2 tersandung isu rasisme. Kuku dan TNC dan Skemberlu yang saat itu main untuk CompLexity dituding melakukan lontaran berbau rasisme. Kuku yang sedang bermain di publik dengan terang-terangan mengetik "ching-chong'', sedangkan Skemberlu bahkan melontarkannya ketika ajang Bucharest Minor.
Tentunya skandal ini diendus oleh pihak Valve yang langsung memberikan sanksi kepada tim dari Kuku dan Skemberlu. Skemberlu bahkan harus rela dilepas oleh CompLexity, sedangkan Kuku sempat dikecam enggak boleh menghadiri Chongqung Major yang digelar di Tiongkok.
5. Tim Indonesia Terbukti Melakukan Match Fixing

Enggak hanya skandal di negara luar saja, pemain dalam negeri juga pernah terlibat match fixing dan mencoreng reputasi Indonesia. Mereka adalah tim Mahameru yang sempat mengikuti ajang Join Dota League 2015. Di antara kelima pemain, tiga diantaranya terbukti memasang taruhan untuk lawan mereka dan mengalah di dalam game.
Investigasi yang dilakukan oleh Join Dota mengemukakan kalau dua dari pemain Mahameru, yakni SPACEMAN dan Oclaire terbukti memasang taruhan. Karena mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf kepada komunitas, tim Mahameru serta para pemain yang terlibat dihukum empat musim atau sekitar satu tahun penyelenggaraan Join Dota dan turnamen yang mereka selenggarakan.




