(REVIEW) A Man Called Ahok (2018)

ahok


Minggu lalu, tepatna 8 November, A Man Called Ahok yang diangkat dari buku karangan Rudi Valinka resmi dirilis. Tanggal perilisan film keluaran The United Team of Art ini berselang dua haru setelah penayangan perdana dari Hanum & Rangga: Faith & The City, film yang juga diadaptasi dari novel karangan Hanum Salsabiela Rais.

Banyak yang mengira kalau film biopik dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ini akan mengisahkan perjalanan politiknya sampai akhirnya beliau mendekam di penjara. Nyatanya, nilai yang diangkat oleh A Man Called Ahok lebih dari itu. Enggak menitikberatkan kisah politik, film besutan Putrama Tuta ini mengandung banyak nilai kehidupan yang bisa diambil.


Asal Muasal Pembentukan Karakter Ahok



Sebagai sosok yang dapat mendapat sorotan sejak dua tahun belakangan, mantan Gubernur Jakarta yang dinilai kontrovesial ini sempat membuat heboh karena dugaan kasus penistaan agama pada 2016 lalu. Begitu kabar tentang produksi film ini diumumkan oleh Rudi Valinka pada April tahun lalu, banyak orang yang sudah enggak sabar untuk menyaksikan di bioskop.

Di babak awal, penonton udah dihadirkan dengan imbauan Ahik kepada para pendukungnya untuk membubarkan diri ketika dirinya ditahan di Mako Brimob. Ingin menghindari kejadian tidak diinginkan, Ahok memberitahukan bahwa dirinya sehat dan aman di dalam Mako. Ini menyegarkan ingatan kita akan sosok ahok yang dinaungi pro dan kontra.

Berbeda dengan anggapan sebagian besar penonton, A Man Called Ahok sangat jauh dari kehidupan politik, film ini diawali oleh Kim Nam (Denny Sumargo), pengusaha tambang  timah yang sangat dermawan. Keturunann etnis, Nam enggak pandang bulu dalam menolong penduduk desa Gantung yang membutuhkan pertolongan. Akibat kedermawanannya ini, sang istri Buniarti (Erisca Rein) sempat protes, dia beranggapan bahwa sang suami lebih mementingkan orang lain dari pada keluarganya sendiri.

Ayah dari Ahok ini memimpikan agar kelak anak-anaknya bisa memajukan Kabupaten Belitung Timur. Ahok kala itu diproyeksikan untuk menjadi dokter, agar bisa mengobati ayahnya di usia senjanya nanti, juga supaya rakyat Belitung Timur enggak perlu berobat ke daerah lain.

Kim Nan, menjadi sosok yang lebih mendapatkan sorotan dibandingkan dengan Ahok. Setiap tingkah perbuatan dan juga ucapan Nam, adalah caranya untuk memberi bekal bagi anak-anaknya untuk bisa mandiri dan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan negara.


Penuh Nilai Kehidupan



Enggak bisa dimungkiri, sosok Nam menjadi lebih bersinar daripada Ahok. tegas dan berkepribadian kuat, ayah empat anak ini berusaha menjadi role model bagi keluarganya. Enggak sungkan memberikan bantuan kepada sesama, benci dengan korupsi, cinta kepada tanah air, adalah sedikit dari banyak sifat Nam yang patut ditiru. Sosok ini sepertinya melekat erat dan menjadi akar dari kepribadiannya Ahok.


Nam percaya, kebaikan akan berbalaskan kebaikan pula. Ketika diprotes oleh istrinya karena memberikan uang kepada yang meminta, Nam cuma berkata singkat "enggak ada orang yang jadi miskin karena memberi", mendengar ini, sang istri pun terenyuh dan menuruti suaminya. Ini terbukti, ketika sedang belanja di pasar, Buniarti diberikan daging sapi secara cuma-cuma oleh orang yang pernah ditolong oleh Nam, padahal saat itu Buniarti sedang kesulitan materi.

Jadi buat lo yang berharap bisa menyaksikan kiprah Ahok di dunia politik, siap-siap untuk gigit jari, karena Putrama Tuta enggak banyak memberikan adegan tersebut. Paling yang bisa lo lihat adalah ketika Ahok memutuskan untuk masuk kedunia politik sebagai anggota DPRD yangdipicu oleh ketidakadilan yang dia rasakan saat menjadi pengusaha. Itupun hanya sekilas dan enggak berdurasi lama.

Debut Memukau Daniel Mananta, Namun Denny Sumargo Lebih Bersinar

ahok

Walaupun menyatut nama Ahok di judul film ini, peran sang ayah, Kim nam, lebih meraih atensi. Diperankan dengan apik oleh Denny Sumargo, pria berusia 37 tahun ini membuktikan diri sebagai aktor dengan kualitas akting prima. Lo akan dibuat terpukau oleh sosok Kim Nam yang berkepribadian kuat.

Dalam film keluarga ini, dinamika hubungan ayah-anak antara Nam dan Ahok menjadi fokus utama. Berkat akting brilian dari Denny Sumargon dan Chew Kin Wah sebagai Kim Nam, serta Eric Febrian dan Daniel Mananta sebagai Ahok, konflik serta emosi yang ada, sukses membuat penonton berempati.

Debut perdana di dunia film, Daniel Mananta tunjukkan totalitasnya dalam memerankan Ahok. Gesture dan mimik dari pria berusia 37 tahun ini udah cukup menggambarkan karakter Ahok yang bisa lo lihat. Suara serak yang khas, cara berjalan sampai ketegasannya dalam berbicara, udah seperti menyaksikan Ahok langsung.


Hindari Politik, Putrama Tuta Kedepankan Nilai Keluarga

ahok

Sepertinya sang sutradara memang enggak ingin membahas politik di film ini. Putrama Tuta lebih memberikan dinamika keluarga yang penuh konflik serta nilai kehidupan yang terdapat dari keluarga Kim Nam. Entah bermain aman untuk menghindari polemik, langkah ini rasana udah cukup tepat.

Semua emosi tergamar jelas di film ini, dari Ahok muda yang belajar bersikap melalui ayahnya, sampai kekecewaan Nam ketika tahu anaknya ingin menjadi pengusaha, alih-alih memajukan daerahnya.

Selain emosi lo yang dimainkan, mata lo juga dimanja dengan keindahan alam khas Belitung Timur. Pantai memesona dengan karang  megah dikelilingi air laut yang menggoda, lo akan dibuat berdecak kagum dengan suguhan mahakarya sempurna.


Empat hari tayang, A Man Called Ahok berhasil menarik penonton dengan jumlah enggak sedikit. Di dorong rasa penasaran tinggi dengan asal usul Ahok, film ini sukses bikin para penonton terbaru dan rindu akan sosok Ahok. Film keluaran The United Team of Art ini sudah bisa lo nikmati di bioskop terdekat.